Minggu, 07 Februari 2021

Yuk, Mengenal Literasi Keuangan agar Hidup Lebih Baik!

Yuk, Mengenal Literasi Keuangan!

Sumber : Pixabay dari Nattanan 23

Literasi selalu dikaitkan dengan kegiatan membaca dan menulis. Padahal sesungguhnya literasi merupakan kata yang dapat diartikan lebih umum.

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI), literasi terbagi menjadi 3 makna:

1. Literasi yang berarti kemampuan membaca dan menulis. Pengertian ini yang pertama kali saya pahami.

2. Literasi yang berarti keterampilan dalam bidang akat aktivitas tertentu.

3. Literasi, artinya kemampuan individu dalam mengolah informasi untuk kecakapan hidup.

Kata di atas dapat digabungkan menjadi beberapa kata lain, sehingga maknanya menjadi lebih luas.

Kata tersebut, yaitu literasi baca tulis, literasi digital, literasi gizi, literasi internet, literasi keuangan, literasi media, literasi numerasi, literasi perpustakaan, literasi siber, dan literasi virtual.

Makna dan Manfaat Literasi Keuangan

Para ahli mempunyai definisi yang sedikit berbeda tentang literasi.

Namun, jika dirangkumkan kata tersebut bermakna kegiatan yang meningkatkan kemampuan belajar dengan berbagai sarana yang ada untuk mencapai tujuan.

Literasi keuangan adalah proses kegiatan yang mengajari seseorang untuk mengelola kegiatannya lebih baik.

Tujuan kegiatan di atas, tentu saja agar Temans tidak konsumtif dan lebih sejahtera.

Proses Literasi Keuangan Pribadi

Sebelum menikah, saya tidak pernah berpikir untuk mengelola keuangan. 

Saya hanya tahu berhemat agar uang kiriman orang tua cukup sampai akhir bulan. Tidak perlu meminta tambahan, meski untuk membeli buku, fotocopy, dan sejenisnya.

Yang penting, saya tidak berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Di awal menikah, saya berpikir untuk menerapkan hal yang sama.

Namun, ternyata saya dan suami mempunyai pandangan yang berbeda tentang uang. 

Di sini saya secara tidak sadar melakukan yang namanya literasi keuangan.

Agar tidak salah langkah, saya membagikan kepada Temans beberapa bagian yang saya pelajari.

1. Pasangan Harus Menyamakan Visi dan Misi

Suami dan isteri berasal dari keluarga dengan latar belakang dan kebiasaan berbeda.

Di awal pernikahan, sebaiknya visi dan misi disamakan terlebih dahulu, termasuk dalam hal keuangan. Apalagi jika pasangan sama-sama bekerja.

Bukan hanya tentang pembagian keuangan, tetapi juga cara membeli alat-alat besar rumah tangga, membelikan mainan anak, dan seterusnya.

2. Jangan Berhutang untuk Hal yang Tidak Perlu

Tidak punya uang? Jangan langsung berpikir untuk berhutang.

Sekali Temans melakukannya akan menjadi kebiasaan. Semua tergantung pada orang lain.

Meminjam uang penting dapat dilakukan, jika ada yang sakit, terkena musibah, dan pendidikan. Itu pun sudah dipikirkan sejak awal bagaimana cara pembayarannya.

Jangan menggunakan prinsip bagaimana nanti. Hutang adlah kepercayaan orang lain yang harus dijaga.

3. Tidak Menggunakan Kartu Kredit

Suami bukan pegawai kantor. Awalnya, kartu kredit katanya digunakan sebagai performa perusahaan. Kadang bank menjadikan hal tersebut untuk mengetahui sehat atau tidaknya keuangan.

Sekali waktu, kami pernah terjebak menggunakannya. 

MasyaAllah, kartu kredit adalah pinjaman bunga berbunga. Utang tidak pernah selesai meski sudah tidak dapat digunakan. Apalagi jika pembayaran hanya minimum.

4. Tinggalkan Riba

Kartu kredit merupakan pengalaman pertama dan terakhir.

Namun, ada lagi yang ternyata tidak mudah. Kami membeli rumah dengan cara menyicil.

Bunga flat hanya diberikan satu tahun pertama. Setelah itu, setiap tahun meningkat. 

Saat sudah KPR sudah berjalan setengah dari tahun yang diajukan, ternyata utang belum berubah. Nominalnya kurang lebih sama sejak awal.

Ternyata, yang dibayar selama ini baru bunganya saja.

Sungguh sangat menyesakkan. 

Allah dan Rasulullah benar memerintahkan umat Islam untuk menghindari riba. ternyata, banyak mudharatnya.

5. Merencanakan Pemasukan dan Pengeluaran

Selanjutnya, perencanaan pemasukan dan pengeluaran sangat penting.

Ini dilakukan agar seseorang lebih bijak dalam pengeluaran.

Jika tidak penting dan tidak ada dalam daftar belanja jangan menggunakan uang yang ada.

Ingat, yang dimaksud dalam perencanaan pengeluaran bukan proyek yang belum pasti jalan. Namun, proyek atau pekerjaan yang sudah berjalan dan belum dibayar.

6. Budget untuk Sedekah, Tabungan, dan Investasi

Dalam perencanaan keuangan, budgetkan untuk sedekah, tabungan dan investasi.

Insyaallah Temans akan memahami kegunaannya masing-masing.

Khusus untuk sedekah, jika tidak digunakan dalam jangka waktu tertentu tidak perlu digunakan untuk pos lain.

Tetaplah disimpan sebagai sedekah.

7. Memahami Rejeki dari Allah

Terakhir, yakin bahwa rejeki datangnya dari Allah. Tidak semata-mata karena usaha.

Jadi, dalam kondisi sesibuk apa pun tidak boleh melupakan ibadah dan bersyukur. 

Allah sudah mengatur bagian setiap manusia.

Itulah Temans, literasi keuangan menurut saya! Pengalaman pribadi dan keluarga hingga saat ini. Tulisan singkat, Semiga bermanfaat.
Semoga kita semua mendapat kemudahan, kelancaran, dan keberkahan rejeki. Aamiin.

Tulisan Ini Diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

Kamis, 04 Februari 2021

Soto Banjar, Kuliner Tradisional Khas Kalimantan Selatan

Soto Banjar, Kuliner Tradisional Khas Kalimantan Selatan 

Sumber gambar: masakapahari ini.com

Saya bukan seorang yang senang berwisata kuliner.

Hampir semua masakan saya anggap enak di lidah.

Meski bertubuh kurus, makan apa saja selalu dinikmati dengan lahap.

Mungkin karena saya juga bukan orang yang suka memasak ya? Jadi tidak rewel terhadap makanan.

Yang penting tidak aneh.

Aneh? Ya, saya hanya suka kuliner tradisional.

Makanan Barat seperti pizza dan burger tidak cocok. Saya menyebutnya aneh di lidah.

Entah kenapa rasanya berbeda  memakan daging yang dicampurkan di pizza, burger, roti isi daging, dan makanan lain yang sejenis.

Soto Banjar, Kuliner Tradisional Khas Kalimantan Selatan Andalan

Meski di atas dikatakan tidak suka memasak, bukan berarti saya tidak bisa memasak.

Beberapa masakan sederhana dan sehari-hari, insyaallah bisa. 

Begitu pula makanan pelengkap yang biasa dihidangkan saat lebaran.

Membuat kue menjadi favorit. 

Di luar semuanya, soto banjar menjadi andalan keluarga.

Saya hanya mau memasaknya saat acara tertentu, seperti arisan, kumpul keluarga, atau teman.

Anak-anak juga menyukai soto yang satu ini.
Mereka selalu dengan senang hati membantu jika saya memasaknya.

Buat saya, membuat soto perlu energi besar.
Bahan-bahannya tidak selalu ada di tukang sayur dekat rumah.

Selain itu, pekerjaannya terdiri dari beberapa bagian.

Selain membuat kuah soto itu sendiri, Temans juga harus menyiapkan telur rebus dan perkedel.

Menyuwir ayam untuk dihidangkan juga membutuhkan waktu cukup lama.

Resep Soto Banjar ala Ummi

Biasanya ketika anak-anak melihat saya bersiap membuat soto Banjar, mereka akan bertanya, “Mau ada acara apa, Ummi?”

He he.. Lebaran pun saya belum tentu membuatnya.

Ada mamak, sebutan saya untuk ibu, yang masih rajin membuat di hari raya.

Saya? Selalu merasa lebih mudah membuat opor ayam dan teman-temannya.

Meski jarang, soto banjar buatan saya tergolong enak, lho!

Mau tahu resepnya? Di bawah ini langkahnya.

1. Menyiapkan Bahan

Bahan yang disiapkan terdiri dari ayam kampung (ayam negeri juga boleh), telur untuk direbus, soun, bumbu, bahan perkedel, daun bawang, dan daun seledri.

Bumbu soto yang dihaluskan terdiri dari bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, merica, dan garam.

Sebagai pembuat aroma, Temans juga menyiapkan biji pala, cengkeh, kayu manis, dan kapulaga.

2. Membuat Perkedel

Agar lebih santai, saya biasa membuat perkedel sehari sebelumnya dan diletakkan dalam kulkas.

Keesokan hari barulah digoreng.
Untuk perkedel, sama dengan cara Temans membuatnya.

Kentang dipotong kecil, digoreng, dan dihaluskan.

Ketika sudah halus, campurkan dengan bumbu.

Bumbunya cukup bawang putih, lada, dan garam saja.

Perkedel untuk soto banjar tidak memerlukan daging cincang dalam campurannya.

Bentuk adonan yang sudah halus dan dicampurkan bumbu sesuai kebutuhan.

3. Menyiapkan Telur Rebus

Jumlah telur yang direbus untuk disajikan tergantung dari selera.

4. Memasak Soto

Siapkan air yang akan digunakan sebagai kuah soto.

Masak bersama ayam. Ketika sudah mendidih angkat ayam.

Masukkan bumbu halus dan bumbu lain untuk menambah aroma rempah.

5. Menyiapkan Ayam Suwir

Ayam yang sudah diangkat ketika direbus dapat disuwir-suwir jika sudah dingin.

6. Memanaskan Soun

Bagian selanjutnya dari soto banjar adalah memanaskan soun agar lunak ketika dimakan.

Pemanasan dapat dilakukan dengan menyiram air panas saja atau direbus.

7. Menyiapkan Sambal

Tentu saja agar terasa nikmatnya, soto harus ditemani sambal.

Sambal ini hanya terdiri dari campuran rawit merah dan cabe keriting yang dihaluskan ditambah garam secukupnya.

Sebelum dihaluskan, cabe direbus terlebih dahulu hingga lunak.

8. Menyiapkan Nasi, Lontong, atau Ketupat

Soto Banjar dapat dimakan terpisah atau bersama makanan pokok.

Umumnya yang digunakan adalah ketupat.
Namun, kini banyak orang menghidangkan kuliner khas Banjar ini dengan nasi atau lontong.

9. Bawang Goreng dan Daun Bawang Seledri

Agar kenikmatannya bertambah, jangan lupa menyiapkan bawang goreng dan irisan tipis daun bawang dan daun seledri.

10. Menghidangkan Soto Banjar

Soto banjar dihidangkan selagi hangat.
Temans harus menyiapkan nasi atau ketupat terlebih dahulu.

Setelah itu, masukkan sedikit soun dan tuangkan kuah di atasnya.

Di bagian permukaan Temans dapat meletakkan suwiran ayam, potongan telur rebus, dan perkedel.

Bawang goreng, daun seledri, dan daun bawang ditaburkan terakhir kali.

Beberapa buah emping juga dapat ditambahkan di permukaan.

Hmm.. Menulis ini jadi lapar, ya?

Itulah kuliner tradisional khas Kalimantan Selatan andalan saya dan keluarga. Apa makanan favorit Temans?


Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 days writing challenge Sahabat Hosting.

Selasa, 02 Februari 2021

Setiap Anak Unik, Tugas Orang Tua Memahaminya

Setiap Anak Unik, Tugas Orang Tua Berusaha Memahaminya

Sumber Foto : Kahhl di Pixabay.com

Setiap anak unik, karena memang Allah menciptakan manusia berbeda-beda. 

MasyaAllah, kembar sekali pun jika diteliti secara seksama padati mempunyai karakter dan bentuk berbeda.

Namun, terkadang orang tua ingin anaknya sama dengan orang lain.

Sebagian besar disebabkan rasa khawatir.

Temans, pasti pernah mendengar kata-kata di bawah ini.

“Anak kamu kok belum bisa berjalan? Padahal usianya sudah satu tahun.”

“Mengapa anak saya tidak dapat sepintar dan setenang si A?”

“Maaf ya, anak bungsu saya memang berbeda dari kakak-kakaknya.”

Masih banyak lagi kata yang kurang lebih artinya sama jika dituliskan: orang tua tidak mau menerima perbedaan anaknya.

Prinsip Dasar Parenting Versi Saya


Saya menikah lebih dari 25 tahun yang lalu.

Masa itu, belum ada ilmu parenting seperti sekarang ini.

Jadi, seperti saya sering bercerita kepada te0an-teman di dunia nyata: “Mungkin anak pertama mencerminkan diri saya.”

Keras kepala, banyak menuntut, dan seterusnya. 

Yang pasti mereka adalah guru saya.

Dari sana, saya belajar banyak hal tentang menjadi orang tua yang baik.

Bagaimana tidak? Saya mempunyai 6 anak dengan karakter yang hampir bertolak belakang.

Ini prinsip dasar parenting berdasarkan pengalaman pribadi.

1. Orang Tua Harus Mengenali Diri Sendiri

Seharusnya jauh sebelum menjadi orang tua, kenali diri sendiri dulu.

Siapa saya, apa yang suka dan tidak suka, dan bagaimana cara mengendalikan diri menjadi prioritas.

2. Orang Tua Menyepakati Tujuan dan Pola Asuh

Masalah sering terjadi ketika kedua orang tua mempunyai cara yang berbeda dalam mengasuh.

Anak yang melihat ini dapat memanfaatkan.

Selain itu, setiap aturan tidak akan diterapkan dengan baik. 

Ibu memberi aturan, ayah melanggar atau sebaliknya.

3. Memahami Bahwa Setiap Anak Unik

Seperti sudah disebutkan di atas, setiap anak adalah unik.

Anda tidak dapat menyamakan kakak dengan adik. Apalagi dengan orang lain.

Jika anak tidak pandai dengan sesuatu, introspeksi diri sendiri. Ada hal lain yang menjadi kelebihannya.

Selain itu, pola asuh yang berbeda tanpa disadari juga menyebabkan perbedaan.

Misalnya, seperti yang saya tuliskan tentang anak sulung di atas.

Soal kepandaian? DNA alias genetika orang tua juga berpengaruh, lho!

Saya saja tidak suka dengan Fisika ketika sekolah. Apakah harus memaksa anak untuk menyuka5? Itu tentu tidak adil.

4. Parenting dengan Berkata Baik

Orang tua adalah teladan anak. Perkataan dalam Islam merupakan doa. Apalagi diucapkan oleh seorang ibu.

Jadi, saya harus menyadari benar berkata harus baik. Meski dalam kondisi marah.

Banyak kisah yang menceritakan hal tersebut. Yang paling terkenal di Indonesia, Malin Kundang yang Durhaka.

5. Menyesuaikan Harapan dan Aksi

Teladan lebih mudah diserap daripada hanya perintah.

Aksi juga harus disesuaikan dengan harapan.

Temans dapat membayangkan ilustrasi di bawah ini.

Hampir setiap orang tua muslim menginginkan anaknya menjadi shalih atau shalihah.

Hal tersebut tidak dapat terwujud begitu saja. Harus seimbang antara harapan dan usaha.

Misalnya, agar anak shalih diperkenalkan dengan Allah sejak kecil. Yang paling sederhana, mengajarkan anak mengaji. 

6. Doa

Doa bagi saya adalah harapan. Itu karena saya yakin, apa pun yang dipanjatkan akan dikabulkan. Meski tidak langsung atau dalam bentuk lain.

Doa di setiap kesempatan untuk segala kebaikan untuk Ananda di mana saja berbeda.

Doa pula untuk teman-teman Ananda. 

Mereka adalah lingkungan terdekat selain orang tua. Jika mereka baik, insyaAllah anak juga ikut. 

7. Menitipkannya Kepada Orang Lain

Saya tahu, bahwa kemampuan diri terbatas.

Tidak mungkin Ananda selalu dalam pengawasan.

Hal tersebut juga akan mengganggu perkembangan dirinya.

Untuk itu, saya selalu menitipkan pada teman-teman baik. Beritahukan saya jika ada yang salah dengan mereka. InsyaAllah saya akan menerimanya.

Itulah tujuh parenting versi saya yang sudah diterapkan untuk 6 anak unik di rumah. 

Saya berdoa, “Semoga Ananda semua (termasuk Ananda Temans) menjadi anak shalih/shalihah, cerdas, dan sehat. Quroota ‘ayyun bagi kedua orang tua dan tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu dalam kondisi apa pun.” Aamiin.. Aamiin ya Rabb..



Tulisan diikutsertakan dalam 30 days Writing Challenge Sahabat Hosting

Minggu, 31 Januari 2021

Personal Branding, Bagaimana Orang Lain Mengenal Anda?

Personal Branding, Bagaimana Orang Lain Mengenal Anda?


Tema yang sulit bagi saya untuk memulai tulisan tentang personal branding. 

Sebelumnya, saya tidak pernah memikirkan apa penilaian orang lain.

Nah, untuk tulisan ini akhirnya saya browsing tentang pengertian personal branding, arti penting, dan bagaimana cara mewujudkannya di media sosial.

Personal Branding dan Hikmahnya

Setelah membaca banyak referensi tentang tema hari ini dari berbagai referensi internet, saya juga coba mencari bukunya di aplikasi Ipusnas yang memang ada di hape saya.

Lalu, iseng-iseng saya coba bertanya kepada Temans di facebook, media sosial yang paling sering saya gunakan.

Hasilnya? Ini kesimpulan saya.

1. Allah Maha Baik 

Saya bertanya pada Temans di facebook, "Apa yang Temans ingat dari saya? Tuliskan dengan satu atau dua kata.”

Dari sekitar 2.000 pertemanan, beberapa menjawab. 

Hasilnya, mereka menuliskan semua yang baik.

Saya pintar, baik, lembut, cantik, penulis, ibu, dengan 6 anak, dan lain-lain.

MasyaAllah, meski di luar dugaan, saya bersyukur. Temans hanya menuliskan hal yang baik. Mungkin memang hanya itu yang mereka ketahui atau mereka memang nggak berani nulis yang buruk ya? He he..

Allah Maha Baik. Dia tutupi semua keburukan yang dimiliki diri. Orang lain hanya melihat yang baik saja.

Padahal, apalah diri ini. Terkadang kewajiban dikerjakan masih dengan terpaksa. Apalagi semua yang sunnah, masih jauh dari sempurna.

2. Personal Branding Belum Berhasil

Meski saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan orang lain, tentu tetap ada yang dicita-citakan.

Saya ingin dikenal sebagai seorang penulis. Bukan dikenal sebagai orang di masa lalu atau ibu dengan anak 6 saja. Hmm...

Dari sini juga saya belajar, dari pertemanan di Fb sebagian besar belum terkelola dengan baik. Komentar yang masuk sebagian besar adalah teman lama, tetangga, dan orang-orang yang kenal di dunia nyata.

Introspeksi, ini sesuai dengan tujuan pertama kali mempunyai akun facebook. 

Sepuluh tahun lalu, saya memang membuatnya untuk menjalin silaturahmi dengan teman-teman lama.

Saya belum berani dan tidak percaya diri memperkenalkan diri sebagai penulis. Saya merasa belum punya karya fenomenal hingga bisa disebut sebagai penulis.

Sesekali hanya promo saat buku antologi terbit.

Setelah itu, status fb mungkin dibuat satu minggu, satu bulan, bahkan sampai satu tahun baru ada kembali.

Baru setahun belakangan ini saya memperkenalkan beberapa tulisan blog di Facebook dan Instagram. Itu pun belum konsisten.

Apa yang Dimaksud dengan Personal Branding?

Dikutip dari salah seorang pengusaha terkaya dunia, Jeff Bezos, “Personal branding adalah sesuatu yang ingin orang lain katakan atau kenal, ketika kamu tidak ada di dalamnya.”
Berdasarkan hal tersebut, setiap orang tentunya mempunyai branding yang berbeda. 

Secara sederhana, seseorang dikatakan pendiam, cerewet, pintar, dan seterusnya. Itu branding diri.

Nah, di era digital branding biasanya dikaitkan dengan profesi yang dijalani.
Misalnya, seseorang dikenal sebagai ibu rumah tangga, penjual online, penulis, dokter, dan sebagainya.

Dari mana orang mengetahui profesi tersebut? Dari status dan unggahan di sosial media yang dimiliki.

Hmm.. Saya jadi terbayang kalau personal branding ternyata penting sekali.

Ini Cara yang Dapat Dilakukan untuk Personal Branding di Media Sosial

Harus diakui, media sosial di Indonesia menjadi platform favorit. 

Dari berbagai referensi yang sempat dibaca, di media sosial Temans dapat memperkenalkan diri secara cepat.

Meski harus disadari juga branding ini tidak dapat dilakukan secara cepat. Beberapa orang membutuhkan waktu lebih dari satu tahun.

Untuk mempercepat prosesnya, di bawah ini beberapa langkah yang dapat diterapkan.

1. Kenali Diri Sendiri

Tidak mungkin orang lain mengenal Temans, jika tidak dimulai dari diri sendiri.

Perhatikan, Temans ingin dikenal sebagai apa dan siapa?

Ini mungkin disesuaikan dengan minat, kemampuan, dan profesi saat ini.

2. Action

Setelah Temans mengenal diri sendiri, selanjutnya adalah action.

Seorang teman mengatakan, bahwa Temans harus mulai membersihkan media sosial dari hal yang tidak perlu.

Jika ingin dikenal sebagai ibu rumah tangga, Temans bisa menghiasi media sosial dengan kegiatan keluarga. Jika ada tulisan sebaiknya, memotivasi dan berhubungan dengan kegiatan tersebut.

Jika Temans seorang penulis, maka media sosial sebagian besar diisi dengan kegiatan tersebut. Hindari platform ini dengan curhatan yang tidak mempunyai tujuan.

3. Konsisten

Ketiga, ini yang cukup sulit. Konsisten dalam memperkenalkan diri. 

Paling tidak, jika branding satu sudah mulai dikenal barulah mencoba hal yang baru.

Jangan hanya melakukan branding sewaktu-waktu saja, seperti saya ya!

So, apa personal branding Temans? Yuk, berkembang bersama! Jangan lupa bahagia!

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 days writing challenge Sahabat Hosting

Kamis, 28 Januari 2021

Ini 7 Hal yang Dapat Dilakukan Saat Emosi Tidak Terkendali

Coba 7 Hal Ini Saat Emosi Tidak Terkendali



Pagi hari merupakan waktu sibuk keluarga. Ibu, ayah, dan anak seakan berlomba dengan waktu.

Sesekali suasana tidak terkendali. Sulung yang biasanya mandiri mengerjakan semuanya, tiba-tiba mogok.

Waktunya sangat tidak tepat, Adik juga sedang rewel.

Wah, rasanya mau berteriak! 

Masa pandemi, semua berada di rumah.
Ayah yang biasanya bekerja ada di rumah. Anak tidak ketinggalan dengan belajar daring.

Berharap Ayah membantu? Ternyata dia hanya pindah kantor ke rumah. Tidak bisa diharapkan terlalu banyak.

Pekerjaan ibu bertambah. Mengerjakan pekerjaan rumah sekaligus menjadi guru, mendampingi anak belajar di rumah.

Ibu mana yang tidak merasa lelah hayati? 

Sudah jenuh di rumah saja, pekerjaan juga bertambah. Apalagi jika ekonomi turut menjadi masalah.

Stres dan mau marah terus menerus, sebenarnya hal yang wajar. 

Hanya saja, harus ada cara mengelolanya yang baik. Jangan sampai, anak menjadi sasaran kemarahan. Seperti berita yang sempat viral itu, lho? He he..

Ibu Pusat Emosi Keluarga


Sebelum membahas tentang cara mengelola emosi yang kerap menimpa saya dan mungkin juga Temans, sebaiknya ketahui lebih dahulu beberapa pendapat ahli.

Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Ratri Kartikanityas, M.Psi, emosi ibu akan diikuti anak.

Jadi, kalau ibu meluapkan emosi dengan marah, anak akan menjadi pemarah. Sebaliknya, jika ibu sedih maka anak akan menjadi pemurung.

Ustaz Bendri dalam ceramahnya yang pernah saya dengar menyatakan, bahwa ibu adalah pusat emosi keluarga. Jika ibu merasa bahagia, seluruh keluarga akan merasakan hal yang sama.

Terakhir, ketika saya diminta menuliskan artikel tentang webinar yang diselenggarakan oleh Shimajiro dari PT Balinesse, hal ini dibahas juga.

“Ibu yang bahagia akan melahirkan anak yang tumbuh kembangnya optimal, “ujar Dr. Cyntia salam sesi tanya jawab.

Kenali Diri Saat Emosi Tidak Terkendali


Emosi negatif merupakan hal yang dimiliki oleh setiap manusia. Mengapa? Karena setiap manusia mempunyai ujian masing-masing.

Ujian yang diberikan untuk menambah keimanan, tentunya.

Dalam Al Qur’an surat Al Ankabut ayat 2 Allah berfirman, “Apakah manusia mengira mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘kami telah beriman dan mereka tidak diuji?”

Di sini, saya tidak akan menjelaskan ayat diatas. 

Yang pasti, ayat tersebut bagian yang paling sering saya ingat untuk menghibur diri di kala menghadapi segala masalah.

Ditambah dengan surat Al Insyirah dan ayat yang berbunyi sesungguhnya manusia diuji sesuai kemampuan. 

Paling tidak, saya akan merasa bahwa bukan hanya diri yang kesulitan di dunia. Bahkan, orang lain mungkin lebih buruk kondisinya dan tetap bertahan.

Kembali ke topik awal, sebelum menerapkan cara mengatasi emosi yang tidak terkendali, kenalilah diri dulu!

Temans bisa melihat kembali catatan saya tentang kesehatan mental. Di sana tertulis ciri-ciri seseorang stres. 

Saat diri menyadari ada yang tidak beres, maka akan lebih mudah mencari solusi.

Tidak mungkin bukan mengatasi masalah saat diri saja tidak mengakuinya?

Cara Mengatasi Emosi Tidak Terkendali


Mengakui bahwa diri melakukan kesalahan atau bermasalah bukan sebuah aib. Apalagi jika ditujukan untuk kebahagiaan keluarga.

Tidak perlu membuat pengumuman atau pemberitahuan ke orang lain, kalau Temans malu. 

Selama masih bisa diatasi sendiri, sudah cukup dengan mengakuinya. Kecuali, Temans benar-benar tidak dapat mengendalikan. Itu berarti bantuan suami dan orang-orang terdekat sangat dibutuhkan.

Agar lebih singkat, ini 5 cara yang dapat dilakukan saat emosi tidak terkendali ala saya, ibu rumah tangga dengan 6 anak.

1. Tarik Napas Dalam

Menarik napas dalam merupakan cara pertama yang dapat dilakukan. 

Saya biasa melakukan sampai hitungan ketiga.

2. Mengubah Posisi

Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadis, kira-kira bunyinya menyarankan untuk duduk jika Temans marah. Kemudian berbaringlah saat emosi masih berada di hati.

3. Menghilang

Emosi akan makin tinggi saat orang yang dimarahi ada di hadapan. Apalagi jika dia (siapa pun itu), menjawab setiap perkataan yang Temans katakan.

Saya biasanya akan menghilang sejenak. 
Lima menit saja menepi akan membuat pikiran lebih jernih. Kemarahan bisa saja menguap. 

4. Jelaskan Emosi yang Sedang Dimiliki

Jelaskan emosi yang sedang dirasakan. Anak akan mencoba memahami, meski masih kecil. 

Paling tidak, Temans telah mengeluarkannya dengan cara lebih baik baik.

Katakan saja, "Bunda merasa X jika kamu melakukan Y dalam situasi Z.”

Para ahli menyebutnya metode X, Y, dan Z.

5. Berpikir Positif

Emosi tidak terkendali biasanya hadir karena pikiran negatif. 

Temans merasa anak nakal ketika pagi-pagi tidak langsung mandi.

Cobalah berpikir dari sudut pandang berbeda. Tanyakan alasan Ananda melakukannya. Dengan demikian solusinya lebih mudah dicari.

6. Bersyukur

Saya menuliskan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa Temans yang mengalaminya tidak pernah bersyukur.

Namun, terkadang diri mempunyai target yang terlalu besar. Lupa dengan yang kecil.

Lupa bahwa setiap hari Ananda sudah bisa sarapan sendiri. Satu hari ini dia tidak melakukannya, jangan dipaksakan.

Jangan pula memaksa diri sendiri harus berhasil membuat anak pintar saat belajar daring.

Jalani saja semua dengan menyenangkan. 

Guru di sekolah saja tidak berhasil membuat semua murid pintar matematika, bukan?

7. Me Time

Menjadi seorang ibu bukan berarti meninggalkan semua kesenangan. 

Temans sesekali boleh jalan-jalan, bersantai, atau sekadar satu jam menonton televisi.
Bahkan, jika sibuk Temans bisa mandi dengan tenang dan meminta tolong suami sesekali menjaga anak-anak. 

Itu bukanlah perbuatan negatif. Orang menyebutnya sebagai me time.

Buat saya membaca buku dan bertemu teman selingkaran dan  sehati merupakan waktu refreshing. Saat kembali ke rumah suasana hati akan lebih baik.

Di masa pandemi, membaca dan berkebun menjadi obat hati lain.

Itu 7 hal yang dapat dilakukan saat emosi tidak terkendali ala saya. Bagaimana cara Temans? 

Apa pun yang dipilih yang penting, jangan lupa bahagia ya!

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 days writing challenge Sahabat Hosting.

Selasa, 26 Januari 2021

Yuk, Ajarkan Anak Cerdas Menggunakan Media Sosial dan Internet



Sumbet gambar : freepik.com


Kisah
“Ummi saya lebih senang di rumah lho, daripada sekolah!”
“Kenapa?”
“Pandemi itu anugerah. Akhirnya, aku diberi ijin untuk pakai ponsel.”
“Iya Mi, betul! Semua pelajaran di sekolah bisa lihat di Google. Ulangan dan ujian, semua dikerjakan dari rumah.”
“Nggak mau sekolah lagi?”
“Mau sih! Di rumah nggak dapat uang jajan.”
Siswa yang berbeda, “Nggak, ah! Saya tidak suka sekolah. Di rumah lebih enak.”

Di atas sedikit cuplikan dari saya tentang situasi terkini, di masa pandemi. Masa di mana sebagian besar pembelajaran dilakukan secara daring. Mengajak anak cerdas menggunakan media sosial dan internet penting dilakukan.
Mengapa? Karena Temans tentu tidak ingin anak berkurang motivasinya untuk belajar.

Tips Mengajarkan Anak Cerdas Menggunakan Media Sosial dan Internet


Sumber gambar: freepik.com

Dunia digital sudah di depan mata. Apalagi pandemi membuat jarak fisik makin lebar. Internet dan ponsel, dua benda yang saling melengkapi menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Sayangnya, fitur dan aplikasi di ponsel tersebut seringkali membuat anak kecanduan dan kurang motivasi mengerjakan hal lain.

Games dan media sosial seperti Tik Tok dan Instagram sangat digandrungi anak dan remaja. 

Fitur Google makin lengkap dan sangat memudahkan.

Bagaimana tidak? Seorang murid bimbingan belajar datang ke rumah untuk mengerjakan tugas sekolah. Ia diminta orang tua untuk melakukannya bersama saya.

Ternyata, dia membawa ponsel dan sama sekali tidak membutuhkan guru. Fitur suara Google dapat langsung menjawab semua pertanyaan tanpa mengetik dan membaca. 

Bahkan, untuk soal matematika saat ini ada aplikasi yang hanya meminta foto dan keluar jawaban dan pembahasan.

Wah, bagaimana cara mengatasi hal-hal di atas?

Berikut beberapa cara mengajak anak cerdas menggunakan media sosial dan internet. Cara ini berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa kenalan, dipadukan dengan referensi lain.

1. Memberi Penjelasan Manfaat Positif Gawai


Setiap benda mempunyai kelebihan dan kekurangan. Begitu pula dengan gawai, sebutan untuk semua benda yang bisa digunakan untuk komunikasi dan mencari informasi.
 
Alat tersebut, misalnya ponsel pintar, laptop, tablet, dan televisi.

Nah, jelaskan pada anak alasan Temans memberikan alat-alat tersebut kepada anak. Biarkan mereka memahami bahayanya jika kecanduan.

Tentu saja tidak semua langsung memahami. Paling tidak, Temans memberikan pengertian secara berulang-ulang.

Ajarkan pula pada anak untuk tidak sembarang memperkenalkan diri pada orang lain di internet. Cyber crime pada anak, seperti perundungan dan pelecehan seksual sering terjadi.

2. Memberi Jadwal Penggunaan Gawai


Sesuatu yang menarik, tentu akan langsung disenangi anak. Mereka terus ingin menggunakannya.
Temans pasti ingat bagaimana antusiasnya Ananda pertama kali dapat naik sepeda!

Itulah kira-kira yang terjadi. 

Masalahnya, selalu ada yang baru dari gawai. Jadi, Anda harus memberi pencegahan. Buat jadwal dengan disiplin ketak dalam penggunaannya.

Jadwal mencegah anak kecanduan gadget dan segala yang ada di dalamnya. Selain itu, ini memberi mereka ruang untuk tetap beraktifitas fisik.

3. Orang Tua Harus Melek Teknologi


Banyak orang tua memberi gawai kepada anak, tetapi tidak mengetahui cara menggunakannya.
 
Jangan sampai itu terjadi! Jika mau, teknologi media komunikasi yang ada di dalam gawai mudah dipelajari.

Orang tua melek teknologi penting agar dapat mengawasi gerak-gerik anak di dunia maya.

4. Orang Tua Memberi Teladan


Temans harus memberi batasan pada anak dalam menggunakan gawai atau gadget. 

Cara paling mudah agar anak langsung mengikuti adalah memberi teladan. 

Jika pekerjaan orang tua memang menggunakan alat teknologi itu dalam waktu lama, tunjukkan pada anak. Temans tidak menggunakannya untuk pekerjaan

.
5. Mengawasi Anak Menggunakan Gawai


Usahakan selalu mengawasi anak saat bersama gadgetnya. 

Beberapa ahli psikologi menyarankan penggunaannya di ruang keluarga.Temans akan lebih mudah melihat jika penggunaannya menyimpang.
 
Anak memang penuh rasa ingin tahu. Jadi, tidak salah bila Si Kecil membuka situs “terlarang”. Di sini tugas orang tua untuk menjelaskan sebijak mungkin.

6. Mengajak Anak Melakukan Kegiatan Lain


Terakhir, ajaklah Ananda melakukan kegiatan lain bersama-sama.

Cara ini tidak hanya membuat anak teralihkan sementara dari gawai, tetapi juga menciptakan komunikasi orang tua dan anak.

Bertambah berat ya, peran orang tua di masa pandemi ini? Percayalah, bukan hanya Teman yang mengalami. InsyaAllah semua ada hikmahnya.

Anak cerdas menggunakan media sosial dan internet justru lebih siap menyambut era digital yang sudah ada di depan mata.

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 days writing challenge Sahabat Hosting


Minggu, 24 Januari 2021

Travelling Paling Berkesan Tidak Harus Mahal dan Jauh


Travelling? Saya tidak pernah berpikir untuk sering-sering melakukannya, karena termasuk yang suka mabuk perjalanan. Itu sebabnya saya lebih nyaman berada di rumah. Jadi, tempat travelling yang paling berkesan buat saya bukan semata keindahan dan favorit. 

Ya, meski bisa dihitung dengan jari beberapa tempat pernah saya kunjungi. Paling tidak, study tour saat sekolah dulu dan pulang ke kampung halaman. He he..

Museum Perjanjian Linggarjati, Kuningan Jawa Barat


Perjanjian Linggarjati merupakan meja perundingan pertama yang dibuka pemerintah Indonesia di awal masa kemerdekaan. Kisahnya, banyak ditulis pada buku-buku sejarah. Saya cukup hafal dengan cerita ini, karena termasuk penyuka sejarah. 
Meski demikian, tidak pernah terbayang suatu saat berkunjung ke museum Linggarjati. Sebuah tempat yang dijadikan tempat berunding saat Belanda melakukan Agresi Pertama pasca kemerdekaan RI, tahun 1947. 


Kebetulan, Kuningan adalah kampung halaman suami. Setahun sampai dua tahun sekali, keluarga biasa berkunjung ke sana. Sehari dua hari menginap dan langsung pulang.

Tujuh belas Agustus 2018, saya dan keluarga kembali ke sana. Beberapa bulan setelah berpulangnya almarhumah Mami. 

Entah kenapa, kali ini sulung Avanty mengajak berkunjung ke salah satu daerah wisata. Saya bilang, kita cari yang tidak ada di sekitar Jabodetabek. Akhirnya, kami sepakat untuk berkunjung ke Museum Perjanjian Linggarjati dalam perjalanan pulang.

Anak-anak zaman now, termasuk jarang berkunjung ke museum. Jika study tour, mereka lebih mengenal Dunia Fantasi, Wisata Yogyakarta, dan Trans Studio Bandung. Jadi, masuk ke sebuah museum merupakan pengalaman sendiri.

Apalagi salah seorang guide di sana langsung mendatangi dan menjelaskan sejarah setiap bagian rumah secara detil. Mungkin, karena kami jumlahnya banyak ya? Sekeluarga lengkap, rombongan berjumlah 8 orang.

Di bagian dinding terpampang beberapa foto, seperti Bupati Kuningan masa itu dan puterinya yang mengusulkan tempat. Ada pula foto Presiden Sukarno dan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Perjanjian Linggarjati. 

Ruangan, lantai, hingga bagian atap meski sudah mengalami beberapa kali renovasi masih asli. Begitu pula perlengkapan di dalamnya. Tidak lupa ada pula diorama yang menggambarkan kejadian selama beberapa hari Perjanjian Linggarjati dan kesepakatannya.

Yang unik, tepat dengan kedatangan kami ke sana sedang diadakan Festival Seribu Bendera Merah Putih dalam rangka perayaan kemerdekaan RI.


Anak-anak suka sekali dengan wisata kali ini.
Saya sendiri, entah mengapa rajin sekali membuat dokumentasi foto di setiap sudut. Dalam pikiran, suatu saat saya akan membuat tulisan tentang museum.

Ternyata saya benar-benar mendokumentasikan perjalanan tersebut. Naskah tentang Setu Babakan di Jakarta tidak jadi digunakan dalam antologi yang diselenggarakan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) bekerja sama dengan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. Alasannya, tempat tersebut belum resmi dijadikan situs cagar budaya.

Pengajuan Museum Perjanjian Linggarjati justru diterima. Enam bulan kemudian, buku tersebut sudah terbit.

Buku yang membawa saya bertemu dengan beberapa penulis lain dan pengalaman tidak terlupakan. Keluarga juga senang karena travelling paling berkesan kali ini diabadikan dalam buku yang dibaca oleh banyak orang. 

Travelling Paling Berkesan ke Kebun Raya Cibodas, Bogor



Saya pernah ke Kebun Raya Cibodas semasa SMP bersama teman-teman. Wah.. Bisa dibayangkan itu terjadi beberapa puluh tahun lalu!

Tahun 2019, anak nomor empat pesantren di wilayah Cipanas. Tentu saja, Cibodas menjadi wilayah yang kami lalui saat menjenguknya.

Awal Maret 2020, saat menjenguk, suami memutuskan untuk berkunjung ke sana. 
Tentu saja Kebun Raya Ciobodas sudah tidak seperti zaman dahulu. Ada pohon sakura yang sayangnya saat itu sedang tidak berbungan. Namun, banyak hal yang dapat dilihat dan sudah jauh tertata rapi.

Ada taman mawar, taman pakis dan suplir, pohon Rafflesia, dan terakhir curug. Nah, yang terakhir ini sangat disukai si bungsu.
Maklum, sebagai anak bungsu dia belum punya banyak pengalaman seperti kakak-kakaknya. Jadi, meski jalan ke curug cukup jauh dan berat, dia senang melakukannya. 

Dia bilang, “Ummi, Aifa bahagia hari ini.”

He he.. Begitulah dia! Selalu ekspresif mengungkapkan isi hatinya. 

Buat saya, perjalanan ke Kebun Raya Cioboda termasuk travelling paling berkesan. Ini dikarenakan perjalanan bebas terakhir kali kami sekeluarga.

Dua minggu setelahnya, pandemi melanda Indonesia. Selama kurang lebih lima bulan kami tidak keluar rumah, kecuali olah raga di sekitarnya. 

Bahkan, sampai sekarang belum ada perjalanan bersama yang dapat dilakukan. Anggota keluarga hanya keluar rumah saat bekerja dan berbagai keperluan lain.

Hikmah mendalam yang saya rasakan. Betapa waktu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Seminggu, sehari, dan satu jam yang akan datang tidak ada yang tahu apa yang menanti. Semua harus bersiap dengan segala kemungkinan. Takdir Allah datang tidak bertanya terlebih dahulu kesiapan manusia. Intropeksi buat saya dan keluarga untuk meningkatkan kualitas diri dan kebersamaan.

Itulah cerita singkat dua travelling paling berkesan bagi saya. Apa cerita Temans? Yuk, sharing di sini!

Tulisan ini diikutsertakan dalan 30 days writing challenge Sahabat Hosting