Rabu, 03 Juni 2020

Mengenalkan Anak tentang Jenis Kelamin

“Allah menciptakan laki-laki dan perempuan berbeda secara fisik dan emosi. Namun, kemuliaan keduanya tergantung kepada ketakwaannya”.

 

Kisah 1

Si bungsu heran, kedua kakak perempuannya sering kali tidak shalat. Padahal, dia yang usianya baru 6 tahun, saya rayu untuk ikut shalat.

“Ummi, kenapa Kakak nggak shalat? Sakit ya?”

Saya sedang sibuk di dapur ketika dia bertanya.

“ Kakak sedang haid,” jawabku singkat.

Si Kakak juga langsung menjawab dari kamarnya, “Iya, aku sedang haid.”

‘Oh…” jawab bungsu yang bernama Aifa.

Namun, beberapa hari kemudian ketika saya sedang bersiap shalat Aifa langsung berkata, “Ummi Aifa nggak shalat ya! Lagi haid.”

Aku yang sudah siap tercengang, antara geli bercampur bingung.

Akhirnya, selesai shalat saya memanggilnya.

“Aifa memang tahu haid itu apa?”

Nggak sih!”

“Haid itu dialami anak yang sudah besar. Keluar darah setiap bulan dari sini,” saya menunjukkan bagian kemaluannya.

“Sakit Mi?”

In sya Allah nggak. Itu tanda anak perempuan sudah menuju dewasa.”

Aifa hanya mengangguk-angguk. Saya yakin, dia tidak sepenuhnya paham.

“Yang pasti, Aifa belum mengalami haid karena masih kecil.”

Dia kembali mengangguk-angguk dan tidak pernah bertanya lagi tentang haid. Apalagi dia kemudian tahu tandanya. Dia pernah melihat ada bercak darah di celana panjang kakaknya ketika haid.

Si Bungsu Bersama Dua Kakak Perempuannya
Sumber: Koleksi Pribadi

Kisah 2

Ketika anak kelas 6 SD, dalam materi pelajaran IPA terdapat bab perkembangbiakkan makhluk hidup. Di sini dibahas sepintas tentang ciri-ciri pubertas anak laki-laki dan perempuan. Di mana, laki-laki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mendapatkan haid pertama.

Ciri-cirinya dijelaskan pada buku. Namun, kebanyakan guru tidak membahasnya.

Suatu waktu, kelompok bimbingan belajar kelas 6 yang kesemuanya laki-laki heboh.

Salah seorang bertanya, “Ummi, mimpi basah itu kayak gimana sih?

Saat itu, anak saya belum ada yang remaja dan jujur belum paham betul. Saya juga pernah bertanya pada suami, jawabannya lupa.

“Coba kalian tanyakan kepada Bapak masing-masing di rumah! Mereka laki-laki, in sya Allah tahu!”

Nggak bisa Ummi! Kalau saya tanya itu ke Papa, pasti marah!”

Akhirnya, saya menjawab seadanya, “Mimpi basah, bukan mimpi ngompol. Cairan yang keluar lebih kental dari pipis. Cairan itu keluar setelah sebelumnya kalian bermimpi bersama dengan perempuan, melakukan sesuatu yang hanya boleh dilakukan oleh suami istri.”

“Seperti orang pacaran Ummi?”

“Kira-kira begitu. Kalian tahu bukan bahwa pacaran iti tidak ada dalam Islam?”

“Iya, Ummi.”

*****

Percakapan dalam dua kisah di atas mungkin pernah terjadi pada Temans. Bersamaan dengan sederet pertanyaan lain dari anak, seperti dari mana adik bayi berasal, bagaimana cara ibu dapat melahirkan, mengapa ibu dan ayah boleh tidur di kamar yang sama sementara anak-anak tidak, dan lain-lain.

Kebanyakan orang tua menghindari pertanyaan tersebut karena jawabannya dianggap tabu. Itu sebabnya kebanyakan guru di sekolah juga tidak menjelaskan secara terperinci ketika pelajaran membahas masalah reproduksi, di tingkat SMA sekalipun. Biasanya siswa hanya diminta membaca dan mempelajari sendiri buku paket.

Hmmm… Padahal di jaman kini, apa saja dapat ditemukan di internet. Jika orang tua dan guru tidak dapat menjawab pertanyaan anak dengan memuaskan, mereka dapat memperolehnya di sana. Dengan jelas dan vulgar, tanpa batasan dan bimbingan.

Berbeda dengan kisah ke-2 di atas yang terjadi sekitar 10 tahun lalu. Mereka semua kini sudah kuliah. Zaman itu internet belum banyak digunakan seperti sekarang.

Siswa-siswa kelas 6 kini, saat mereka memasuki bab reproduksi dan menyebutkan ciri-ciri pubertas, mereka tersenyum malu-malu. Entah mengerti atau tidak.

Sayalah yang selalu berinisiatif pada siswa untuk menjelaskan lebih detil dan akibat-akibat yang mereka dapatkan ketika sudah pubertas.

Pendidikan Seks dalam Perspektif Islam

Menurut Temans, tepatkah tindakan saya di atas?

Saat terjadinya, itu semua dilakukan spontan saja. Saya merasa bahwa anak harus dijawab keingintahuannya dengan bahasa mereka.

Bahasa psikolog hal di atas disebut sebagai pendidikan seks atau educational sex. Tentu saja di sini bukan berarti mengenalkan mereka tentang perilaku seks, tetapi lebih pada kesadaran tentang jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kesadaran bahwa keduanya berbeda. Anak harus menjaga dan merawat yang dimiliki hingga dewasa.

Bagaimana pendidikan seks tersebut dalam Islam?

Dari berbagai referensi disebutkan bahwa pendidikan seks dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu:

  • Pengenalan mengenai anatomi tubuh laki-laki dan perempuan, reproduksi, dan pembinaan keluarga.
  • Bidang etika, moral, ekonomi, fisiologi, dan lingkungan tentang perbedaan peran dan hubungan antara pria dan wanita.

Dalam Islam tidak dituliskan secara gamblang mengenai pendidikan yang masih dianggap saru ini. Namun, Alquran merupakan kitab yang lengkap. Tentu saja, di dalamnya terkandung tentang bagaimana laki-laki dan perempuan serta hubungan keduanya.

Beberapa terjemahan ayat Quran yang berhubungan dengan hal di atas, antara lain:

1. Quran Surat Ar Rum (30) ayat 21

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.

2. Quran Surat Al Isra (17) ayat 32

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.

3. Quran Surat Al A’raf (7) ayat 80 – 81

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (homoseksual) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”.

4. Quran Surat An Nur (24) Ayat 58 – 59

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu (bagian luar) di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Itulah beberapa ayat Alquran yang saya ketahui tentang laki-laki dan perempuan dan hubungan keduanya.

Ayat yang menunjukkan bahwa Islam sejak dahulu kala sudah menyiapkan berbagai hal. Ajakan untuk tidak mendekati zina, tidak melakukan hubungan homoseksual, dan memisahkan anak-anak dan budak dari kamar orang tua mempunyai banyak manfaat.

Di sini saya hanya mengajak Temans semua untuk lebih memperhatikan pengetahuan anak tentang laki-laki dan perempuan. Mengajak para Bapak untuk lebih dekat dengan anak laki-lakinya dan Ibu dengan anak perempuannya.

Tidak perlu malu dan sungkan. Jika tidak dari orang tua, mereka akan memperoleh pengetahuan dari tempat atau orang lain yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.


6 komentar:

  1. Saya setuju banget, Bun. Pendidikan seks dan seksualitas harus didapatkan dari orang tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, jangan sampai mencari dari orang atau situs yang tida bertanggung jawab

      Hapus
  2. bagus kok bun materinya,
    saya juga butuh ini anak saya kebetulan perempuan dan laki-laki.
    makasih ya bun ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2.. Menulis sekaligus mengingatkan diri sendiri

      Hapus
  3. Betul Bun, orangtua sebaiknya paham mengenai ini. Makanya sebisa mungkin cari tahu dulu ya jawaban dan cara menjawab yang tepat agar anak juga tidak malah jadi kepikiran atau malah jg malu. Terima kasih sharingnya Bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 Mbak.. Ini kebetulan saya pernah mengalaminya

      Hapus