Minggu, 13 Juni 2021

Merawat Diri Menurut Ajaran Islam

 

 

Islam itu indah dan tidak menyarankan umatnya untuk mengabaikan hal tersebut. Make up dan merawat diri sesuai ajaran Islam juga dianjurkan. Bukan hanya karena ini ingin kelihatan cantik tetapi ada keutamaan lain yang akan diperoleh.

Apa dan bagaimana sebenarnya Islam memandang make up dan perawatan diri? Yuk, diintip beberapa hal di bawah ini.

Batasan Merawat Diri Sesuai Ajaran Islam

Apa yang Temans bayangkan jika melihat seorang muslimah menggunakan baju “kucel’ dan muka kusam? Apalagi ditambah bau badan yang menyengat?

Wah.. Sepertinya tidak ada yang mau mendekati ya?

Pandangan orang lain kepada muslimah berhijab dan Islam juga menjadi rendah. Tidak mau bukan, jika itu terjadi?

Oleh karena itu, pada dasarnya Islam membolehkan muslimah merawat diri selama tidak berlebihan. Apalagi pada dasarnya pakaian takwa lebih baik daripada sekadar kecantikan wajah dan perhiasan.

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Qs Al Araf : 26)


Jadi, cantik yang dimaksud dalam ajaran Islam adalah wanita yang menggunakan hijab alias menutup aurat, berakhlak baik, rajin dalam beribadah, dan menjalankan kewajibannya dalam keluarga.

Merawat diri yang dimaksud adalah menjaga kebersihan diri dan tidak merusak yang sudah diberikan dan diciptakan Allah Swt.

Lalu bagaimana batasannya? Berikut uraiannya secara singkat.

1. Mempercantik Diri sebagai Bentuk Ibadah

Mempercantik dan merawat diri sesuai ajaran Islam sebagai bentuk meningkatkan ibadah dan rasa syukur kepada Allah Swt.

Jika Temans tidak merawat kebersihan dan kesehatan segala sesuatu yang dimiliki, pertanda tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan.

2. Bagian dari Menjaga Hubungan dengan Orang Lain

Seperti ilustrasi yang digambarkan di atas, seseorang yang sebenarnya baik dapat dijauhi karena bau badan yang menyengat atau berpakaian tidak rapi.

Muslimah merawat diri sebagai bagian dari menjaga hubungan dengan orang lain dan membuat orang lain merasa nyaman dengan Temans. Berpakaian rapi dan indah dipandang dibolehkan asal tidak melanggar syariat. Tidak memperlihatkan lekuk tubuh dan membuka aurat.

3. Tidak Berlebihan dan Menjadi Diri Sendiri

Ajaran Islam mengajarkan muslimah untuk merawat diri, bukan untuk pamer atau istilahnya riya. Bukan pula sengaja menarik perhatian laki-laki yang bukan muhrimnya alias tabbaruj.

Pakailah make up sesuai tempatnya dan tidak membuat wajah berubah dari aslinya. Kenakan pakaian sopan.

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". (Qs Al Ma'dah :77)

4. Sesuai Syariat

Merawat diri menurut ajaran Islam dan mempercantiknya harus sesuai dengan syariat Islam.

Di atas telah disebutkan, cantik dan syar’i adalah dengan menutup aurat. Selain itu, meniatkan perawatan diri sebagai bentuk ibadah, menjaga hubungan baik dengan orang lain, dan tetap menjadi diri sendiri atau tidak berlebihan.

Ada beberapa hal yang dilarang oleh Islam untuk dilakukan, seperti mencukur alis dan menggambarnya.

Merawat Diri dengan Skincare yang Tepat




Berdasarkan hal di atas, Islam tidak melarang Teman menggunakan skincare asalkan sesuai dengan syarat tidak mengubah apa yang Allah ciptakan. Selain itu, kehalalan bahan yang digunakan juga harus diperhatikan. Ini dikarenakan, skincare diaplikasikan ke kulit dan dapat meresap masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori.

Dari sekian skincare dan make up yang kini banyak beredar, Temans dapat memilih Mirdah. Pilihan ini akan menjawab kebutuhan muslimah modern yang ingin mewujudkan kecantikan sesuai fitrah.

Mirdah sendiri merupakan nama yang populer untuk anak perempuan muslimah. Artinya, orang yang berani, cerdas, dan pekerja keras. Sesuatu yang diharapkan ada pada muslimah yang menggunakannya.

Mirdah, Beauty Solution sementara ini terdiri dari day cream, moist and glow serum, dan dan Facial Wash.

Buat Temans yang ingin tahu produk ini lebih jauh, tunggu postingan selanjutnya tentang merawat diri menurut ajaran Islam ya! Salam Bahagia!

Minggu, 30 Mei 2021

Bijaksana Bersikap dalam Menyambut Kebangkitan Dunia Literaei di Era Digital

 

Tidak dapat dipungkiri, zaman berubah dengan sangat cepat. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi bagian terdepan dalam perubahan. Kebangkitan dunia literasi di era digital tidak dapat dielakkan.

Ya, hampir tidak ada orang di dunia ini yang menolak perkembangan dunia digital. Jika pun ada, pembatasan mungkin hal yang bisa dilakukan.

Menolak teknologi sama sekali berarti bersiap tertinggal dari orang lain. Tertinggal yang dinilai bukan hanya dari gaya hidup, tetapi segala aspek kehidupan yang terkait di dalamnya.

Apa yang Dimaksud dengan Kebangkitan Dunia Literasi di Era Digital?

Kebangkitan dunia literasi digital terdiri dari empat kata. Dua kata terakhir harus dipahami terlebih dahulu jika Temans ingin memahaminya secara keseluruhan.

Literasi, secara sederhana diartikan sebagai sebuah kemampuan individu yang meliputi keterampilan membaca, menulis, dan berhitung dalam memecahkan masalah kehidupannya sehari-hari. Jadi, meski literasi sering dikaitkan dengan membaca cakupannya lebih luas. Ada literasi keuangan, budaya, digital, dan sebagainya.

Sementara itu, kata digital berhubungan dengan teknologi informasi dan komunikasi yang sudah sempat disinggung di atas. Kata ini berkaitan dengan internet, perangkat, dan semua yang berada di dalamnya.

Jika digabungkan sebagai satu kesatuan utuh, kebangkitan dunia literasi di era digital adalah masa di mana manusia menggunakan kemampuannya dalam membaca, menulis, dan berhitung secara digital atau melalui internet untuk memecahkan masalahnya.

Dengan demikian, Temans dan saya sebagai masyarakat dunia secara umum mau tidak mau berkontribusi di dalamnya agar menghasilkan sesuatu yang positif.

Langkah Bijak dalam Kebangkitan Dunia Literasi di era Digital

Setiap perubahan melahirkan sisi positif dan negatif. Semua tergantung pengguna.

Kebangkitan dunia literasi di era digital ditandai dengan penggunaan gadget yang meluas mulai anak-anak hingga dewasa. Siapa saja dapat dengan bebas mengakses segala sesuatu yang diinginkan.

Media sosial dan games mungkin merupakan dua hal yang paling banyak Temans, saya, dan anak-anak gunakan.

Banyak dampak positif yang diperoleh dengan berkembangnya dunia digital, seperti makin mudahnya informasi diperoleh, memudahkan belajar, dan meningkatkan bisnis.

Namun, dampak negatifnya juga tidak kalah banyak. Ada yang kecanduan gadget, mengalami cyber bullying, penipuan online berbagai bentuk, dan sebagainya.

Untuk memaksimalkan dampak negatif sekaligus mengoptimalkan hal positif, maka perlu bijak dalam berselancar di dunia digital. Ada langkah bijak yang dapat Temans lakukan sebagai berikut.

1. Membatasi Waktu Penggunaan Gadget

Meski gadget dan dunia digital merupakan hal penting, sejak awal batasi penggunaannya. Apalagi jika Temans mau memperkenalkannya pada anak.

Pembatasan ini akan memberi teladan kepada anak, sehingga mereka juga lebih mudah mengelola waktunya bersama dunia digital.

Meski dampak positif gadget sebagai alat digital banyak, tanpa dibatasi  hal negatifnya akan lebih mudah dirasakan dan sulit terlepas.

2. Tidak Memberikan Sembarang Data kepada Orang Tidak Dikenal

Temans pasti pernah mendengar penjualan data dan hacker yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini.

Dua hal tersebut dapat diantisipasi dengan tidak memberikan sembarang data kepada orang lewat dunia yang disebut maya ini.  Makin banyak data yang disebarkan, akan membuka peluang di atas makin besar.

Bagi anak, pemberian data dapat membuka peluang segala kekerasan dan pelecehan secara digital.

3. Mewaspadai Penipuan

Penipuan merupakan hal lain yang dapat dengan mudah dilakukan di tengah berkembangnya digitalisasi.

Jangan mudah mempercayai orang lain yang baru dikenal dan terbuai dengan iming-iming yang tidak masuk di akal. Misalnya, investasi online yang dengan cepat menjadikan dana Temans berkali-kali lipat dalam waktu singkat. Mengapa? Karena pada dasarnya tidak ada hasil besar yang diperoleh hanya dengan berdiam diri.

4. Berkomunikasi dengan Anggota Keluarga

Meski bermain dengan teman digital mengasyikkan, komunikasi dengan keluarga tetap nomor satu. Tetap luangkan waktu untuk hal ini, karena hubungan di dalamnya lebih nyata dibandingkan teman maya.

Komunikasi yang baik dengan seluruh anggota keluarga juga akan meminimalisir dampak buruk gadget.

5. Berinternet dengan Santun

Dalam dunia digital, seseorang tidak saling bertemu secara fisik. Ini membuat seseorang dengan lancer berbicara dengan bahasa apapun.

Tidak sedikit yang mengeluarkan bahasa tidak santun. Bahkan Netizen Indonesia pernah dituliskan oleh Microsoft sebagai paling liar se-Asia.

Meski tidak saling mengenal, bahasa menunjukkan jati diri dan kepribadian orang yang mengucapkan dan menuliskannya.

Itulah lima langkah bijak dalam menyambut kebangkitan dunia literasi di era digital agar hidup tetap seimbang. Perubahan zaman tidak dapat dibendung. Sebagai manusia, diri yang harus bersiap dan beradaptasi agar tidak terlindas dampak negatifnya.


Jumat, 28 Mei 2021

5 Pelajaran Selama Pandemi yang Sangat Berharga

 

 

Covid-19 masuk ke Indonesia bulan Februari 2020. Namun, saat itu banyak pihak mengabaikannya. Tidak ada yang memperkirakan virus tersebut pada akhirnya menyerang banyak orang dan mengubah berbagai sektor kehidupan. Pelajaran selama pandemi sangat berarti dan menggoreskan makna sangat dalam.

Secara pribadi saya tidak melupakan pekan akhir di mana aktivitas keluar rumah masih dapat dilakukan dengan bebas. Awal Maret sampai pertengahan kegiatan memang sedang padat.

Beberapa di antaranya seperti memberi isyarat agar saya sekeluarga bersiap menjalani hari di rumah yang cukup panjang. Awal Maret kami sekeluarga sempat dua hari menikmati liburan di suatu tempat dekat pesantren Hilman, anak kelima. Selanjutnya, ada kumpul bersama teman selingkaran dan arisan di lingkungan rumah. Sejak Januari, bimbingan belajar sedang berkembang dengan membuka kursus bahasa Inggris.

Pelajaran Selama Pandemi

Dua hari jelang akhir pekan, isu lockdown atau penguncian wilayah sangat santer. Ini dikarenakan di beberapa wilayah penderita virus yang disebut Corona makin banyak. Meski demikian, tetap tidak ada yang menyangka semua berubah dalam sekejap.

Hari Sabtu, saya lupa tanggalnya dengan tepat. Mungkin 25 atau 26 Maret 2020, tiba-tiba pembatasan aktivitas diberlakukan. Anak ketiga dan kelima yang pendidikan di luar kota meminta untuk dijemput dan pulang. Lingkungan mendadak sangat sepi. Bimbingan belajar yang sudah hampir 10 tahun tidak pernah libur, menjadi sepi. Hati ikut senyap.

Tidak, saya dan keluarga tidak mengkhawatirkan penghasilan yang berkurang. Namun, rasanya kehidupan ikut terenggut bersama pandemi Covid-19. Apalagi kini sudah satu tahun lebih masyarakat Indonesia merasakan dampaknya.

Meskipun demikian, ada beberapa pelajaran selama pandemi yang menjadi catatan seperti diuraikan di bawah ini.

1. Kekuasaan Allah Sangat Besar

Bagaimana pun virus Covid-19 atau Corona Virus adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan tujuan tertentu. Hal ini yang terpikirkan di pekan pertama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diberlakukan sejak akhir Maret 2020.

Hanya dalam waktu satu hari saja, kehidupan sudah berubah hampir seratus delapan puluh derajat.

Sebagai manusia, saya tidak mempunyai kekuatan apa-apa selain meminta perlindungan agar dapat melewati semua jalan-Nya dengan kuat. Terpikirkan, jika waktu saya habis saya belum mempunyai bekal yang cukup menghadap-Nya.

2. Sabar dalam Kebersamaan

Tidak banyak yang tahu, saya mempunyai enam orang anak. Ketika beranjak dewasa mereka sudah mulai membatasi diri untuk keluar rumah. Tetangga jauh hanya mengenal dua anak yang terakhir.

Orang lain melihat, saya tidak pernah masalah dengan keenam anak yang tumbuh dewasa. Namun, Temans dapat bayangkan jika keenamnya ditambah orang tua berkumpul dalam jangka waktu lama. Bagaimana pun, masing-masing anggota keluarga mempunyai sifat dan karakter sendiri. Beberapa saling bertolak belakang.

Tiga bulan pertama, kami habiskan waktu bersama benar-benar tanpa banyak aktivitas di luar. Di sini, semua belajar sabar dalam kebersamaan.

Saya, suami, dan anak-anak berusaha terus menumbuhkan harapan pandemi segera berakhir sambil menyelesaikan semua konflik yang timbul.

Alhamdulillah, bulan Juni 2020 meski kami masih berkumpul bersama, sesekali aktivitas di luar mulai dilaksanakan. Sekolah dan perkuliahan masih daring hingga kini. Begitu pula si kakak yang masih menghabiskan waktunya dengan work from home (WFH).

Pelajaran selama pandemi, setiap anggota keluarga jadi lebih saling mengenal satu sama lain.

3. Waktu Sangat Berharga

Demi masa, Allah bersumpah dalam Quran surat Al Asr ayat 1. Saya merasakan benar, waktu sangat berharga. Beberapa kali hati ikut terpukul dan sedih, saat beberapa orang yang dikenal harus meninggal dunia karena Covid-19.

Ramadhan masa PSBB berlalu tanpa bisa melaksanakan berbagai aktivitas, tarawih dan iktikaf di masjid.

Foto: Idul Fitri 1441 H/ 2020 di Masa Pandemi

Saya kembali terhentak, selama ini banyak menyia-nyiakan waktu. Berapa ibadah Ramadhan dan lainnya yang terlewat dan kini sangat dirindukan.

Beberapa pekan lalu, Ramadhan kedua di masa pandemi kembali terlewati. Ibadah ke masjid sudah dapat dilakukan dengan protokol kesehatan ketat.

4. Belajar Disiplin

Covid-19 juga mengajarkan disiplin dalam segala hal. Saat keluar rumah harus memakai masker, membawa hand sanitizer selalu, dan menjaga jarak.

Temans past juga merasakan bagaimana sulitnya mendampingi anak-anak belajar daring. Ini bagian dari disiplin yang berbeda.

5. Belajar Berdamai

Terakhir, pelajaran selama pandemi adalah belajar berdamai dengan keadaan dan tidak mengeluh. Terus bergerak melakukan hal positif meski aktivitas fisik terbatas. Hal ini saya rasakan membuat mental tetap sehat dan diri tetap produktif.

Itu sedikit pelajaran selama pandemi yang sangat lekat pada diri saya dan keluarga. Sebuah perjalanan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan oleh orang-orang tua yang masih hidup. Cara Allah menegur diri agar tidak terlena dengan kondisi yang ada terus berusaha menjadi lebih baik. Wallahu’alam.

Rabu, 26 Mei 2021

Pengalaman Memaafkan dan Proses Terjadinya


Manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi. Dalam kegiatan tersebut, sering kali terjadi perselisihan. Pengalaman memaafkan dan meminta maaf menjadi bagian yang saling berhubungan agar semuanya berjalan baik. 
Namun, meminta maaf dan memaafkan bukanlah hal yang mudah. Meminjam lagu Sherina di masa kecil, hanya orang yang berjiwa pemberani yang mau minta maaf dan satria untuk memaafkan. He he.. Betul nggak ya lagunya begitu? 

Alasan Memaafkan 


Sering kali seseorang mengatakan, “Saya sudah memaafkan dia.” 

Benarkah demikian? Jika Temans pernah menyatakan hal di atas, sebaiknya instropeksi diri. 

Memaafkan, memang bukan berarti melupakan. Namun, bukan juga menjadi pembenaran untuk saya atau Temans mengingatnya terus menerus. 

Terus menegaskan sesuatu yang terjadi, apa yang orang lain lakukan, dan bagaimana itu terjadi adalah pertanda bahwa Temans belum memaafkan. Apalagi jika kemudian diiringi dengan kegiatan merusak diri sendiri. Menuduh, segala sesuatu memang merupakan kesalahan diri. 

Buat saya, memaafkan itu mudah. Yang sulit, jika harus memaafkan kesalahan orang-orang terdekat, seperti orang tua, pasangan, anak, dan keluarga besar lain. Terkadang mereka tidak menyadari kesalahan dan membuat orang lain terluka. Bahkan, diri sendiri tidak mengetahui hati terluka dan membawa hal negatif.

Berpura-pura tidak ada yang pernah terjadi, jelas tidak mungkin. Mereka merupakan orang terdekat yang intensitas pertemuannya lebih besar dari orang lain. Akibatnya, hubungan sehari-hari menjadi tidak harmonis. Sedikit saja masalah, dapat menjadi pemicu emosi dan kemarahan. 

Jadi, dengan konteks di atas memaafkan mempunyai dua fungsi: memperbaiki hubungan dan memberikan kedamaian pada diri. Hmm.. Ternyata tidak mudah jalan menuju memaafkan karena tidak hanya menyangkut orang lain tetapi juga memaafkan diri sendiri. 

Proses Menuju Keikhlasan Memaafkan 


Jika ikhlas memaafkan itu pekerjaan mudah, tentu sudah banyak orang melakukannya dan interaksi menjadi lebih damai. 

Hal ini juga bukan berarti memaafkan itu sulit. Hanya saja berdasarkan pengalaman memaafkan, ini harus berproses. 

Bagaimana prosesnya? Di bawah ini ada beberapa hal yang harus dilalui berdasarkan pengalaman pribadi, Temans, dan beberapa sumber. 

1. Kenali Emosi Negatif 

Umumnya, ketika masih dikuasai sakit hati seseorang akan mudah sekali marah. Kemarahan tidak hanya ditujukan kepada orang yang menyakiti, tetapi kadang kepada siapa saja. 

Ibu rumah tangga seperti saya, misalnya. Beberapa kali menempatkan anak sebagai makhluk yang tidak berdaya dan menjadi pelampiasan amarah. Kasihan, bukan? 

Temans harus mengenali emosi negatif yang ada dan mengingat alasan itu terjadi. Setelah itu, secara sadar mengakui kesalahan dan memperbaiki. 

2. Berempati 

Saat sudah mengetahui emosi negatif dan penyebabnya, berusahalah terlebih dahulu memahami kesalahan orang lain. Berusahalah untuk berpikiran positif: orang lain tidak sengaja menyakiti atau dia tidak menyadari telah menyakiti hati Temans. 

Berempatilah sedikit, dengan mencoba menempatkan diri pada posisi yang sama. Dari sini kemungkinan Temans sudah merasakan kedamaian, rasa tersakiti dilihat dari kacamata yang berbeda. 

3. Memaafkan Kesalahan Masa Lalu 

Jika kesalahan orang lain pada Temans sudah lama sekali, berusahalah memaafkan kesalahan masa lalu. Jangan terjebak atau terobsesi dengan kata "seandainya". 

Dalam ilmu parenting, perilaku anak adalah hasil didikan orang tuanya. Ketika Temans sudah dewasa dan menyadari ada yang salah dari pendidikan orang tua, segera maafkan hal tersebut. Maafkan orang tua dulu yang kurang perhatian, suka memarahi, dan seterusnya. Ini penting agar Temans tidak melakukan hal yang sama kepada anak-anak tercinta. 

4. Terus Mengingatkan Diri Sendiri 

Langkah keempat, teruslah mengingatkan diri sendiri bahwa Temans sudah memaafkan. Pikirkan setiap kali rasa sakit timbul. 

Jika memungkinkan, beristighfarlah sebelum tidur dan berulang kali mengatakan bahwa diri ini ikhlas dan sudah mau memaafkan kesalahan A. 

5. Menyadari Dampak Positif Memaafkan 

Saat proses memberi maaf terjadi, sedikit demi sedikit Temans akan merasakan hal yang berbeda. Hidup lebih nyaman, sakit kepala hilang, gatal-gatal di seluruh tubuh tidak terasa lagi, dan sebagainya. 

Dampak positif yang mulai terjadi akan membuat Temans terus mencoba ikhlas hingga benar-benar melupakan semua kesalahan orang lain. 


So, pengalaman memaafkan adalah proses yang cukup panjang. Namun, hasilnya akan cukup signifkan, lho! Saya sudah membuktikan, hidup akan lebih sehat secara jasmani dan rohani.

Senin, 24 Mei 2021

Jenis Pendidikan di Indonesia dan Hubungannya dengan Anak dalam Pandangan Ibu Rumah Tangga

Ilustrasi Pendidikan/ Foto: Pixabay/ Manfredsteger 

Bicara pendidikan di Indonesia memang bukan hal yang mudah. Sesuatu yang tidak diketahui ujung pangkalnya. Apalagi kebijakan pemerintah sering kali berubah sesuai pemimpin departemen terkait. Meski demikian, jenis pendidikan yang dinaungi pada dasarnya sama saja.

Jenis Pendidikan di Indonesia 

Sesuai pengelola dan struktur atau tingkatanya, ada tiga jenis pendidikan di Indonesia seperti diuraikan secara singkat berikut. 

1. Pendidikan formal, merupakan pendidikan yang terstruktur dari jenjang rendah hingga tinggi. 

Di dalamnya juga ada aturan atau kurikulum yang telah diterapkan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang kini menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 

Contoh pendidikan formal, yaitu satuan pendidikan SD hingga SMP. 

2. Pendidikan informal, sama terstruktur dan berjenjang. 

Hanya saja muatannya tergantung pada masing-masing lembaga. Tidak ada aturan tertentu dari pemerintah pusat. 

Contoh: TPA, PAUD, kursus, dan majelis taklim. 

3. Pendidikan nonformal, merupakan pendidikan yang tidak berjenjang dan terstruktur. 

Umumnya pengajaran diperoleh dari keluarga dan masyarakat yang lebih luas. Materinya meliputi: agama, budi pekerti, etika, sosialisasi, dan lain-lain. 

Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pendidikan 

Saya adalah ibu rumah tangga (IRT) yang sesekali menulis dan mempunyai 6 orang anak. Selain itu, sebagai tambahan penghasilan saya juga mempunyai sebuah bimbingan belajar kecil di rumah. Sesuatu yang saya geluti sekitar 15 tahun. 

Dalam mengajar saya mengedepankan proses dan tidak melulu berbicara hasil. Ini juga diterapkan pada anak-anak di rumah.

Bagi saya, PR dan ulangan tidak harus mendapat nilai 100 karena tidak semua anak mempunyai kemampuan sama. Apalagi di bidang matematika yang sering kali dianggap momok. 

Ada beberapa yang menurut saya harus menjadi perhatian, baik bagi orang tua dan maupun pendidik secara umum. 

1. Kerjasama Orang Tua dan Pihak Sekolah

Ini menjadi bagian paling penting dalam dunia pendidikan formal dan informal. Orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya segala sesuatu yang berhubungan dengan pengajaran kepada sekolah atau guru.

Pendidikan yang baik, harus seimbang di rumah dan sekolah. Tidak ada penerapan yang berbeda di antara keduanya, terutama berkaitan dengan akhlak dan kesiplinan. 

2. Kejujuran 

Hal selanjutnya yang menjadi perhatian adalah kejujuran. Seperti prinsip yang sudah saya kemukakan sejak awal, dalam belajar tidak melihat hasil tetapi proses. 

Orang tua tidak memaksakan anak untuk mendapat nilai terbaik, sehingga anak berlaku jujur saat ujian. 

Begitu pula dengan guru di sekolah di masa sekolah daring. Jika harapannya sekadar materi tersampaikan semuanya, di rumah orang tua yang mengerjakan tugas sekolah.
 Pihak sekolah tidak mau tahu jika anak dan orang tua kesulitan dalam menangkan materi yang diberikan. 

3. Kegemaran Membaca Sejak Dini

Mengajarkan anak cinta buku dan menyukainya lebih sulit daripada membaca.

Akibatnya, mulai kelas 3 SD anak mengalami kesulitan menangkap pelajaran. Materi pelajaran makin banyak, minat baca dan pemahamannya tidak ada. 

4. Pemahaman Pelajaran 

Pelajaran baca tulis hitung saat ini berfokus pada menghafal tanpa memperhatikan konsep atau pemahaman. 

Anak dapat berhitung 2 ditambah 4 tanpa tahu tahu bagaimana hal tersebut terjadi. Begitu pula semua pelajaran ilmu sosial dan sains lain. 

Jika pertanyaan sedikit berubah, kebanyakan mereka bingung menjawabnya. 

Misalnya, kebakaran hutan menimbulkan kabut asap yang menyesakkan pernapasan.

Anak akan mudak menjawab, apa yang terjadi jika kebakaran hutan meluas? 

Mereka kesulitan menjawan, mengapa pernapasan menjadi sesak? Itu dikarenakan tidak ada tulisan karena di dalam kalimat. 

5. Sikap dan Perilaku 

Terakhir, pendidikan seharusnya mengutamakan sikap dan perilaku. Bukan kepintaran akademis saja. Di sini kecerdasan emosional anak harus diasah. 

Hampir tidak ada gunanya, anak pintar tetapi tidak dapat bersosialisasi dan mandiri.

Sedikit saja masalah di sekolah, maka pindah menjadi solusi. Apalagi kini sikap hormat kepada guru juga mulai menghilang. Ditambah rasa empati yang mulai terhapuskan. 

Hal tersebut dapat dilihat di video-video di dunia yang viral. 

Itulah sedikit catatan saya tentang jenis pendidikan dan beberapa hal yang harus diperhatikan. Tentu saja ini hanya catatan belaka dan mungkin tidak ada artinya. Namun, paling tidak ada harapan yang mewakili para orang tua awam di dalamnya.

Sabtu, 22 Mei 2021

5 Alasan Membaca Buku yang Dapat Memotivasi


Buku sering disebut sebagai jendela ilmu, karena dari sana banyak ilmu yang baru diperoleh. Namun, di zaman digital tidak banyak generasi muda mau melakukannya. Perlu ada alasan membaca buku yang tepat agar mereka termotivasi.

Jika Temans mencari di internet atau istilahnya googling dengan kata kunci motivasi membaca buku, ada banyak pakar yang telah menuliskannya. Semua alasan yang didasarkan pada pandangan sesuai keilmuwan di bidangnya masing-masing.

Adakah alasan yang dikemukakan sama dengan motivasi, Temans?

5 Alasan Membaca Buku Menurut Saya

Saya sendiri sudah senang membaca buku sejak pertama kali dapat membaca.

Abah, sebutan untuk bapak di keluarga lebih suka membelikan anak-anaknya buku daripada mainan. Meski mahal, sampai usia kelas 2 SMP anak-anaknya masih diberikan langganan majalah Bobo.

He he.. Padahal menginjak usia remaja teman-teman sebaya sudah membaca majalah Gadis dan Anita Cemerlang yang terkenal pada masanya.

Yang jelas, sikap Abah di atas berhasil membuat saya sangat menyukai membaca, dalam bentuk apapun. Apalagi di masa itu tidak ada gadget yang dapat mengalihkan perhatian. Dari tiga bersaudara, saya satu-satunya yang mempunyai hobi ini.

Makin bertambah usia, kebutuhan membaca membesar.

Saya sanggup membaca majalah Bobo tanpa mempedulikan sekeliling hanya dalam waktu satu jam. Sementara kemampuan orang tua untuk membeli berbagai buku sangat terbatas.

Akhirnya, saya betah berlama-lama di perpustakaan anak-anak untuk membaca. Dari perpustakaan buka hingga tutup. Kala itu modalnya hanya Rp500,00 untuk membaca sepuasnya di Perputakaan Anak Museum Satria Mandala.

Namun, hal itu tidak memuaskan. Hanya dalam waktu dua bulan dengan kunjungan seminggu sekali semua buku sudah dua kali dibaca.

Sejak itu, hobi membaca beralih ke buku teman-teman. Jika teman mempunyai koleksi buku, saya betah berlama-lama di rumahnya.

Apa alasan membaca buku bagi saya? Setelah dipikir-pikir saya sudah melalui banyak fase dalam membaca. Alasannya bisa bermacam-macam tergantung kondisi. Lima di antaranya yang paling dominan dijelaskan berikut ini.

1. Ada Buku

Ketersediaan buku merupakan alasan pertama. Awalnya tertarik melihat, kemudian coba membaca.

Setelah merasa ada kesenangan di dalamnya, akhirnya hal tersebut menjadi hobi yang tidak mudah dihilangkan. Pada setiap kesempatan dan waktu, jika memungkinkan saya akan selalu membaca buku.

Hal yang sangat saya hindari ketika sudah berumah tangga dan mempunyai enam orang anak. Saat ada buku di depan mata, tidak tidur sebelum buku selesai dibaca.

Ketersediaan buku menjadi hal pertama juga yang saya fasilitasi di rumah. Meski belum dapat membeli buku banyak dan berkualitas, harapannya anak-anak dapat juga senang dengan buku.

2. Kesenangan atau Hobi

Hobi menjadi alasan lain saya membaca buku.

Anehnya, tidak ada genre tertentu yang disukai.

Pada masa kecil, saya suka membaca Komik Nina dan buku-buku Enid Blyton. Namun, ketika membaca koran semua bagian tidak luput menjadi perhatian.

Dengan hobi ini saya banyak menghabiskan waktu istirahat dan memanjakan diri alias me time.

3. Tugas Sekolah atau Kuliah

Alasan lain membaca buku bagi saya adalah tugas sekolah dan kuliah. Meski terkadang bahasa buku membosankan, terpaksa harus dibaca juga.

Untungnya, saya kuliah di jurusan yang diminati sehingga menyelesaikan tugas dengan datang ke perpustakaan bukan menjadi beban.

4. Tuntutan Pekerjaan

Membaca buku merupakan tuntutan pekerjaan? Ya, ini terjadi sejak saya membuka usaha Bimbingan Belajar di rumah.

Bukan hanya buku pelajaran, cerpen remaja juga ikut dibaca. Ini dilakukan agar dapat lebih dekat dengan murid-murid dan memahami dunia mereka yang sepertinya berbeda seratus delapan puluh derajat.

Apalagi ketika saya memutuskan menjadi content writer dan ghost writer, membaca merupakan kewajiban agar tulisan lebih berkembang dan berkualitas.

5. Memberi Teladan kepada Anak

Kini Ada Buku Digital yang Dapat Dibaca Bersama Anak/ Foto: Koleksi Pribadi/

Terakhir, saya ingin memberikan teladan kepada anak-anak. Sejak dini mereka saya perkenalkan buku. Bahkan, ketika mulai dapat membaca buku saya damping setiap hari dalam membaca buku beberapa menit. Sebagai tambahan, saya juga harus mencontohkan membaca di depan mereka.

Hmm.. Itulah alasan membaca buku yang saya rasakan. Apakah Temans mempunyai motivasi lain? Yuk, share di komentar.

 

Jumat, 23 April 2021

Penyakit Kusta di Indonesia dan Disabilitas




Mendengar dan melihat tentang penyakit kusta, membuat saya teringat masa-masa di sekolah dasar. Puluhan tahun lalu, saya memang pernah didiagnosis mengalami penyakit tersebut.

Tidak banyak yang diingat tentang hal tersebut. Yang saya tahu, ada bercak di bagian sendi-sendi jari tangan yang seperti mati rasa.

Beruntung, orang tua saya cukup memiliki pengetahuan tentang penyakit yang kemudian saya kenal dengan nama kusta atau lepra. 

Saat ke dokter, penyakit ini tidak dideteksi dengan periksa darah seperti yang dibayangkan banyak orang masa kini. Di ruangan laboratorium, bagian tangan yang terdeteksi kusta disayat tipis untuk mengetahui rasa sakit. 

Sepemahaman saya yang masih usia kelas 5 SD, jika masih terasa sakit saat disayat berarti penyakit belum parah.
 
Entahlah... Yang pasti saya menjalani pengobatan kurang lebih satu tahun (lupa tepatnya) hingga bercak dan penebalan di kulit buku jari hilang. Tidak ada seorang pun yang tahu pengalaman ini karena memang orang tua bergerak cepat untuk pengobatan. Sebelum dan sesudah penyakit tersebut hinggap, tidak terlihat ada perubahan pada diri.

Setelah puluhan tahun, tiga minggu lalu akhirnya saya berkesempatan mengenal kusta lebih dekat melalui komunitas IIDN. Saya berkesempatan mengikuti Workshop daring via Zoom dengan tema Media yang Mengedukasi dan Memberantas Stigma Kusta dan Disabilitas. Acara tersebut, dilanjutkan dengan Talkshow yang bertema: Melihat Potret Kusta di Indonesia.

Kusta Masih Ada di Indonesia


Temans mungkin jarang sekali melihat orang yang berpenyakit kusta di sekitar. Namun, berdasarkan data yang ada, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycrobacterium leprae ini banyak menimpa masyarakat Indonesia.

Bahkan, diketahui Indonesia merupakan rangking 3 pasien dengan penderita kusta terbanyak di dunia. Kasus baru selalu terjadi setiap tahun dan masih ada 7 provinsi di Indonesia yang mempunyai angka prevalensi tinggi atau lebih dari 1. 

Dr. Christina Widianingrum, MKes dalam diskusi daring via Zoom menyatakan, bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan masih banyaknya penderita kusta di Indonesia, yaitu:

  • Pemahaman publik terhadap penyakit ini masih rendah
  • Keahlian teknis tenaga kesehatan tentang kusta menurun
  • Masih ada stigmasi dan diskrimansi terhadao penderita

Tentang Kusta

Seperti sudah dijelaskan secara singkat di atas, penyakit kusta disebabkan oleh bakteri. Ini menular tetapi tidak terlalu mudah. Bakteri dapat berdiam diri dalam tubuh manusia selama sekitar 2 sampai 5 tahun tergantung pada kondisi tubuh yang dimasuki.

Bakteri menyerang kulit dan bagian syaraf tepi. Itu sebabnya, penyakit yang tidak ditangani dengan dapat menyebabkan cacat fisik.

Berdasarkan survey Kementerian Kesehata RI yang dikemukakan oleh dr Udeng Damar, Technical Advisor Program Pengendalian KUsta NLR Indonesia, dari 100 orang yang terpapar bakteri lepra, hanya 5 yang terjagkit. Kemudian lima orang yang dimasud, 3 orang tertular tetapi sembuh dengan sendiri dan 2 orang perlu pengobatan.

Penyakit ini terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Kusta kering atau PB (pausi basiler) yang ditandai dengan jumlah bercak 1 sampai 5 dan kerusakan kurang dari satu syaraf tepi dan Basil Tahan Asam (BTA) menunjukkan hasil negatif.
  2. Kusta basah atau MB (multibasiler) yang ditandai bercak lebih dari lima dan kerusakan lebih dari satu syaraf tepi dan BTA menunjukkan hasil positif. Kusta jenis kedua ini biasanya diobati lebih dari 6 bulan.
Gejala yang harus diwaspadai sebagai ciri penyakit kusta, antara lain:
  • Bercak pada kulit berwarna putih seperti panu atau merah
  • Bercak tidak gatal
  • Hilang rasa
  • Tidak berkeringat
  • Tidak berambut
Penyakit ini bukan turunan, apalagi kutukan seperti yang sering disebutkan oleh masyarakat. Selain itu, penyakit juga dapat sembuh dengan pengobatan teratur sesuai petunjuk dokter.

Peran Media

Pada dasarnya kusta dapat sembuh dan tidak meninggalkan bekas sama sekali. Ini bukan sekadar teori, karena saya sudah membuktikannya.

Namun, keterlambatan penanganan dan ketidaktahuan sering kali menyebabkan penderita mengalami disabilitas. Ini menjadi bagian dari masalah pada masyarakat, baik sosialiasasi tentang penyakit itu sendiri dan perlakuan kepada orang yang sudah sembuh tetapi mengalami disabilitas.

Oleh karena itu, Berita KBR yang rutin mengadakan talkshow dan konsep terhadap disabilitas memilih tema Kusta dan mengajak seluruh masyarakat untuk ikut serta dalam program yang dicanangkan NLR: Suara untuk Indonesia Bebas Kusta (SUKA).

Dari sisi media, Aliansi Jurnalis Indonesia mengajak penulis (jurnalis) untuk menggunakan bahasa dan gambar yang lebih ramah untuk menggmbarkan penderita disabilitas. 

NLR juga mengajak setiap perusahaan untuk bekerja sama dan memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk ikut bekerja dan berkarya. 

Sumber: 
Workshop daring via Zoom dengan tema: Media yang Mengedukasi dan Memberantas Stigma Kusta dan Disabilitas, 13 April 2021.

Talkshow dari Media BKR dengan tema: Melihat Potret Kusta di Indonesia, 19 April 2021.
Temans juga dapat mengetahui beberapa isu sosial lain di channel Youtube BKR